KUNGSLEDEN, SWEDEN

Scroll this

Kungsleden – The King’s Trail

Kungsleden adalah salah satu jalur hiking terkenal di dunia, NatGeo memasukkannya ke dalam list mereka bersama dengan 15 hiking trail lainnya. Rute terpanjang dari trail ini adalah sekitar 400km yang terbentang dari Abisko (utara) ke Hemmavan (selatan). Selain rute ini, terdapat banyak jalur alteratif yang bisa dipilih, dan yang paling populer adalah jalur Abisko – Nikkaluokta dengan total jarak 104km.

“I left half of my soul in Abisko” 

Kira-kira itulah yang saya katakan tiga tahun lalu ketika mengunjungi Abiko di saat winter. Ketika itu saya berkesempatan bersama teman saya berkunjung ke Abisko, salah satu taman nasional di Swedia. Pemandangannya sangat menabjubkan, danau yang terhampar luas seperti bulu domba, membeku karena suhu yang ekstrim. Saat itulah saya meyakinkan diri saya untuk kembali ke tempat ini.

Namun kali ini saya datang ketika summer, dimana perlengkapan yang dibutuhkan tidak seperti ketika winter. Jalur yang saya ambil adalah jalur yang populer, untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan. Awalnya saya memutuskan untuk mengambil arah Nikkaluokta- Abisko, tapi kemudian saya mensyukuri keputusan saya untuk mengambil arah sebaliknya. Kenapa? Karena jalur Nikka-Abisko cenderung mendaki. 😀

Persiapan

Keberangkatan ke abisko sudah saya persiapkan beberapa bulan sebelumnya. Mulai dari mempersiapkan alat-alat sampai latihan rutin di gym. Latihan yang saya lakukan adalah angkat beban dan squat. Saya sudah membuktikan bahwa dengan latihan squat, otot kaki akan memiliki endurance yang baik saat berjalan jauh atau mendaki, seperti ketika summit Semeru, saya hanya membutuhkan waktu 2-3 jam saja. Persiapan di Sweden saya lakukan di rumah ‘mantan’ bos saya, Peter. Saya sangat berterima kasih karena dapat banyak bantuan. :D.

Saya sempat mendapat masalah ketika bagasi saya tertinggal di Zurich. Untungnya pihak maskapai Swiss Airlines berjanji untuk mengirimkan bagasi saya ke Kiruna esok harinya. Beruntung juga karena saya tidak harus membawa ransel saya di Stockholm. Perjalanan dari Stockholm ke Kiruna membutuhkan waktu 18 jam dengan kereta. Waktu yang sangat lama. Saya bertemu dengan banyak pelancong lainnya dengan bawaan masing-masing.

Hari I – Abisko – Abiskojaure (15km) 

Hutan

Cuaca yang tkurang baik untuk memulai perjalanan. Saat itu hujan turun tanpa henti, mulai dari Kiruna sampai Abisko. Teman saya Peter mengantar saya sampai pintu gerbang Kungleden dan menemani saya beberapa km sampai saatnya kami makan siang. Kadang terlintas di pikiran apakah saya bisa melewati 7 hari kedepan?

Tantangan pertama adalah melewati sungai yang meluap. Selain air yang cukup deras, airnya yang sangat dingin membuat tulang terasa sakit. Kami harus melepas sepatu agar kaki tetap kering sehingga terhindar dari hipotermia. Kami bertemu dengan pasangan dari Jerman yang membawa ajing mereka. Anjingnya sempat terjatuh ke air dan tampak sangat ketakutan dan kedinginan.

Perjalanan berikutnya saya lanjutkan seorang diri, tentu saja bersama dengan pelancong yang lain. Pemandangan selama perjalanan didominasi oleh pohon-pohon, danau dan sungai. 

“Hej!”

salam yang berarti Hei! diungkapkan ketika bertemu dengan sesama pelancong. Seperti memberikan semangat.

Hujan masih tetap turun sampai saya tiba di perhentian pertama. Abiskojaure. Disitu saya segera mendirikan tenda, dan membersihkan diri di sauna. Kita harus membayar beberapa ratus krona untuk bisa menikmati fasilitas ini. Sensasi setelah sauna dan mandi sangatlah menyegarkan, setelah bejalan cukup jauh. Badan terasa lega dari letih. Saya sempat bertukar cerita dengan seorang wanita yang berprofesi sebagai seorang guru. Dia sudah berjalan dari Hemmavan selama beberapa minggu. Dia mengatakan di Denmark (tempat asal dia) tidak ada gunung, kontur tanahnya flat, jadi mereka harus keluar negri untuk bisa menikmati ketinggian. 

Di setiap perhentian terdapat fasilitas untuk memasak, sehingga kita tidak perlu menggunakan kompor yang kita bawa. Namun tetap bijak untuk membawa kompor sendiri untuk keadaan darurat. Peraturan di sini sangatlah ketat namun menurut saya bagus. Setiap orang bertanggungjawab untuk mengambil air bersih, membuang air kotor, membersihkan dapur dan juga memotong kayu bakar. 

Malam harinya saya tidur cukup nyenyak, walupun udara yang sangat dingin, kira-kira dibawah 10 derajad celcius. Beruntung saya membawa sleeping bag yang cukup nyaman. Selama perjalanan saya tidak perlu manyalakan lampu, karena di utara selalu ada cahanya. Matahari terbenam sekitar pukul 9 malam, namun tidak benar2 tenggelam. Cahanyanya masih dapat kita rasakan sepanjang hari. Cahanya ini disebut midnight-sun.

Hari II Abiskojaure – Alesjaure (22km)

Danau

“Berada di alam bebas merupakan suatu kemewahan untuk jiwa yang ingin bebas”

Hari yang sangat melelahkan. Jarak yang jauh dan juga cuaca yang kurang mendukung. Hampir selama perjalanan langit mendung dan kadang harus menembus kabut. Beberapa km dari Abiskojaure, trek langsung mendaki melewati beberapa bukit. Pohon-pohon mulai menghilang karena ketinggian yang semakin bertambah. Setelah jalanan terlihat datar, saya bertemu dengan seorang wanita dari England, dari arah berlawanan. Saya bertanya berapa jauh lagi? Jawabannya membuat saya menarik napas panjang, masih 2/3 perjalanan lagi. Dia menejelaskan rute yang harus saya tempuh dan tak lupa memberikan semangat. Yang menarik dalam perjalanan ini, saya bertemu dengan banyak orang. Ada yang berjalan sendirian, berdua dengan pasangan atau teman-teman, ada juga yang berjalan dengan keluarga ( ayah – ibu – anak ).  

Jalur ke Alesjaure cukup ekstrim karena harus melewati rawa dan jalanan yang berlumpur. Sesekali saya berhenti untuk beristrahat sekaligus menikmati pemandangan yang luar biasa. Setengah perjalanan menuju Alesjaure merupakan pinggiran danau yang sangat panjang. Untuk mereka yang tidak cukup kuat untuk berjalan lebih jauh lagi, terdapat penyewaan speed boat yang akan membawa mereka langsung ke perhentian berikutnya. Cukup untuk menghemat tenaga sejauh 5 km.

Ketika samapai di perhentian kedua, cuaca langsung bersahabat. Langit cerah dan udara yang sejuk, cenderung dingin. Saya sangat menikmati pemandangan dari atas bukit. Dikejauhan terlihat perkampungan penduduk asli Lapland yang disebut orang Sami.

Alesjaure merupakan perhentian yang cukup besar, mereka menyiapkan penginapan, sauna, dan toko untuk membeli perbekalan. Saya bertemu dua orang Jepang disini. Rasanya bahagia ketika bisa bertemu sesama orang Asia. Salah satu dari mereka, sudah berumur, tiap tahun dating ke Kungsleden selama dua bulan. Dia menceritakan pengalamannya selama disini dengan bahasa inggris yang terbata-bata. Saya hampir tidak mengerti apa yang dia katakan, tapi dari foto-foto yang dia perlihatakan saya tau bahwa dia seorang pengelana sejati.

Saya mendapatkan pengalaman baru mengenai sauna. Di Jakarta saya hanya bisa menikmati sauna di hotel-hotel atau di gym. DI sini saya bisa merasakan sauna yang sebenarnya, di alam liar. Untuk mengisi air di sauna, setiap orang harus mengambil air masing-masing. Berada satu ruangan dengan orang Finlandia merupakan suatu ‘bencana’, mereka selalu menambahkan air ke dalam perapian yang mengakibatkan suhu dalam ruangan semakin panas. Saya hanya kuat sekitar 10 menit. Maklum, sauna adalah tradisi asli dari Finlandia, disana seiap rumah memiliki sauna masing-masing. Untuk merasakan sensasi sauna yang sebenarnya, setelah beberapa saat dalam ruangan, mereka langsung menuju ke sungai yang dingin untuk bercebur kemudian kembali lagi ke dalam sauna. Mereka tidak memakai sehelai benag pun di tubuh mereka. Sedikit agak ‘aneh’ buat orang asia. 😀

Hari III Alesjaure – Tjäktja (13km)

Padang Rumput

Jalur ini mungkin menjadi bagian terbaik dari perjalanan saya di Kungsleden. Selain cuaca yang cerah, pemandangannya pun sangat indah. Jalurnya merupakan pdang rumput hijau dan gunung-gunung berselimutkan salju abadi.

Untuk mendapatkan air minum sepanjang jalur Kungsleden tidaklah sulit, karena air yang mengalir sangat bersih yang berasal dari glacier yang mencair dari gunung-gunung sekitar. Rasa airnya pun sangat segar dan dingin.

Karena cuaca yang cerah dan cenderung panas, saya sempat memutuskan untuk melepaskan jaket yang saya pakai. Dua hari sebelumnya saya harus menggunakan jaket sepanjang perjalanan karena hujan dan dingin. Mungkin para pelancong lain sempat heran melihat saya bejalan hanya menggunakan thsirt. Kenapa? Salah satu tantangan di Kungsleden selama summer adalah nyamuk yang jumlahnya ribuan, konon katanya bisa membunuh seekor sapi. Untung saya membawa mosquito repellent dari Indonesia. Ternyata sangat ampuh untuk mengusir nyamuk kutub yang terkenal ganas. Ukuran mereka besar-besar tapi terbangnya lambat. Tidak seperti nyamuk tropis yang kecil dan gesit.

Dua kilometer terakhir menuju perhetian berikutnya merupakan tanjakan dan cuaca berubah mendung. Beberapa orang memutuskan untuk melanjutkan ke perhentian berikutnya, sekitar 14 km lagi, namun saya memutuskan untuk berhenti di Takja.

Perhentian ini tidak sebesar Alesjaure, tidak ada toko dan sauna. Beruntung tidak banyak berhenti disitu jadi kami bias menikmati keheningan smentara waktu. Penjaga penginapan sangat ramah, ternyata mereka baru saja tiba setelah bergantian dengan penjaga sebelumnya. Saya sempat bertukar cerita dengan beliau. Untuk membersihkan diri saya memilih turun ke air terjun dengan es yang membeku di sampingnya. Saya tidak mengambil resiko untuk menceburkan diri ke sungai karena saya akan membeku seketika.

Saya bertemu dengan beberapa orang yang kemudian menjadi teman saya di beberapa hari kemudian. Mereka dari Lithuania, Canada, dan Prancis. Kami sempat bertukar cerita mengenai pengalaman dan negara masing-masing. Orang-orang selalu takjub atau kaget ketika mereka tau saya dari Indonesia, seakan saya dari planet lain. Hehe. Dari log book yang say abaca, saya orang kedua dari Indonesia yang menjalani trail ini. Kebanyakan mereka yang dari Asia berasal dari Jepang, Korea, dan China.

Hari IV Tjäktja – Sälka (14 km)

Gunung Es

Hari berikutnya saya memulai hari cukup pagi. Oh iya, saya selalu berusaha memulai perjalanan pagi hari sebelum yang lain berangkat, jadi kalau saya membutuhkan pertolongan di jalan, saya bisa yakin ada orang lain yang akan lewat. Tapi ada seorang ibu dan anak yang selalu lebih berangkat lebih awal dari saya, mereka dari Swedia. Mereka sepemikiran dengan saya, dan juga mereka bilang mereka tidak bisa berjalan cepat.

Di jalur ini saya harus melewati Tjaktja Pass, puncak tertinggi dari jalur Kungsleden. Jaraknya kira-kira 5 km dari Tjaktja. Jalanan lumayan mendaki dan penuh dengan batu-batu. Suhu udara cukup dingin karena cuaca mendung dan juga terdapat banyak es yang belum mencair. Sesekali saya harus melewati hamparan es dan juga sungai yang dingin.

Di Tjakjta pass terdapat sebuah pondok untuk keadaan darurat, letaknya tepat diatas bukit. Di pondok ini disediakan toilet dan juga kayu bakar. Kita dilarang menggunakan kayu bakar jika tidak dalam keadaan darurat, karena biaya untuk membawa kayu-kayu tersebut cukup mahal.

Setelah melewati Tjakja pass, pemandangan langsung berubah. Terdapat hamparan padang rumput hijau dan juga sungai-sungai. Saya menyempatkan diri berhenti sekitar 1 jam untuk menikmati pemandangan sekaligus menunggu matahari muncul.

Dalam perjalanan saya bertemu dua orang yang dari Swedia yang berjalan tidak terlalu cepat. Saya selalu bisa melewati mereka ketika saya berhenti istrahat. Kemudian hari mereka memanggil saya ‘The Rocket’. Hehe.

Hari V Sälka – Kebnekaise (21 km)

Lembah Hijau

Di Salka saya bertemu dengan ketiga teman saya sebelumnya. Kami berdiskusi untuk rute besok harinya. Saya memutuskan untuk langsung menuju Kebnekaise tanpa berhenti di Singi. Yang berarti saya harus berjalan lumayan jauh, 23 km . Ketiga pria lainnya memutuskan untuk menuju Singi terlebih dahulu kemudian ke Kebnekaise. Kecuali teman kami dari Canada, dia akan mengambil jalur yang lain. Jadi hari itu terakhir kalinya saya bertemu dengan dia. Saya memilih untuk langsung Kebnekaise karena saya ingin segera menghubungi keluarga saya, karena selama perjalanan tidak ada sinyal untuk berkomunikasi dengan dunia luar.

Untuk makanan, saya membawa beberapa bungkus mie gelas dari Indonesia dan juga energen. Peter juga membekali saya dengan sepotong daging rusa kering. Namun di Hari kelima, perbekalan makin menipis, jadi saya memutuskan untuk membeli pasta. Pasta adalah makanan yang paling umum dan murah, mengingat biaya hidup di Sweden sangat mahal, apalagi daerah terpencil seperti ini. Biar tidak bosan saya mencampurnya dengan bumbu mie gelas yang tersisa, jadi tidak hambar.

“Tuhanlah gembalaku, aku takkan kekurangan. Ia membaringkan daku di padang rumput yang hijau. Ia membimbing aku ke air yang tenang, dan menyegarkan daku..
…. Kerelaan dan kemurahan-Mu mengiringi aku seumur hidupku. Aku akan diam di dalam rumah Tuhan sepanjang masa.” 

Perjalanan ke Kebnekaise pada awalnya sangat menyenangkan. Pemandangan yang disuguhkan adalah padang rumput hijau yang diapit oleh lembah yang indah. Saya harus mengambil jalan pintas untuk menuju Kebnekaise, jalurnya mendaki jadi saya berjalan cukup lambat. Saya memutuskan untuk makan siang bersama dua orang dari Los Angeles. Awalnya mereka berfikir saya dari New York, hanya karena topi yang saya gunakan, NY. Di puncak terdapat danau es yang sangat indah. Airnya yang biru akibat pantulan dari langit yang cerah.

Setelah jalanan menurun, saya harus melewati lembah yang lebih sempit. Tebing yang menjulang tinggi seakan menunjukkan kemegahan dari jalur ini. Setelah melewati lembah, jalur berikutnya adalah rawa-rawa. Saya sempat mengambil jalur yang salah, yang diikuti orang-orang di belakang saya. Untungnya saya sadar ketika medannya makin sulit, berlumpur dan air yang tinggi. Saya pun meminta maaf ke mereka, namun mereka hanya tersenyum. 

Beberapa kilometer terakhir sangatlah sulit, kaki saya mulai sakit dan jari saya melepuh. Saya berjalan perlahan sperti orang yang terseok-seok. Untungnya saya bisa sampai di Kebnekaise Mountain Station sebelum hujan turun. Perhentian ini sangat ramai, karena dekat dengan Gunung Kebnekaise. Banyak orang kesini untuk mendaki gunung tertinggi di Swedia. Sebelumnya saya berencana untuk mendaki gunung tapi dengan kondisi tubuh setelah berajalan puluhan kilometer, saya memutuskan untuk mengambil jalur lain.

Fasilitas di Kebnekaise Mountain Station sangat lengkap. Sauna yang besar dan toko yang menjual berbagai macam perlengkapan. Juga terdapat fasilitas helicopter dari dan ke Nikkaluokta.

Hari VI Kebnekaise – Tarfala (16 km)

Glacier

Sebagai pengganti Summit Kebnekaise, saya mengubah rute ke ke Tarfala. Menurut deskripsinya, Trafala tidak terlalu jauh dan tingkat kesulitannya mudah. Tapi ternyata tidak. Setengah perjalanan adalah pendakian, dan setengahnya lagi adalah hamparan batu-batu yang membuat kaki harus bekerja ekstra untuk berjalan diatas batuan runcing.

Trafala adalah tempat mana terdapat glacier abadi. Dikelilingi oleh puncak-puncak tertinggi di Swedia. Dari sini kita bisa melihat orang yang mendaki menuju puncak Kebnekaise dari jalur Barat, jalur yang ekstrim karena harus melewati es.

Suasana di Tarfala sangatlah hening. Hanya terdapat sebuah penginapan dan burung-burung camar. Pemandangan glacier yang besar seperti menghipnotis kita untuk tidak beranjak dari situ. Saya sempat melihat seekor raindeer  atau rusa yang lewat di bebatuan. Di Tarfala juga terdapat stasiun penelitian yang mengawasi perubahan di glacier. Penelitian ini berguna untuk memprediksi arah perubahan iklim global di dunia.

Sore harinya saya kembali ke Kebnekaise, disana saya bertemu dengan teman-teman saya sebelumnya. Tampaknya mereka sangat gembira tiba di tempat ini, karena mereka bisa berkomunikasi dengan keluarga mereka.

Hari VII Kebnekaise – Nikkaluokta (19 km)

Home

Hari terkahir trekking, jarak yang ditempuh cukup jauh, namun jalurnya relatif rata. Di perjalanan saya bertemu dengan orang-orang baru akan memulai perjalanan mereka ke Abisko, masih terdapat semangat di wajah mereka. Sesekali terdengar helicopter yang membawa logistic atau turis yang tidak ingin bejalan untuk sampai di Kebnekaise, atau mereka yang sudah sangat lelah untuk berjalan ke Nikkaluokta. Tarif untuk menggunakan jasa helicopter sekitar 1,2 juta rupiah.

Setelah 7 kilometer dari Kebenekaise terdapat jasa speed boat yang bisa menghemat sekitar 5 km perjalanan. Tarifnya sekitar 500rb rupiah. Tapi saya memutuskan untuk bejalan kaki untuk melengkapi petualangan saya.

Tidak mudah untuk menaklukkan jalur ini dengan kondisi kaki saya yang semakin sakit. Apalagi jika saya berhenti untuk beristirahat, untuk memulai berjalan lagi, harus menahan rasa sakit di otot paha. Ini karena saya berjalan cukup jauh dari Salka ke Kebnekaise. Tapi akhirnya saya bisa tiba di Nikkaluota, jauh sebelum bus yang mengantar saya kembali ke Kiruna tiba. Perjalanan dari Nikkaluota ke Kiruna saya habiskan dengan tidur di bis. Sampai akhirnya saya bertemu dengan teman saya lagi.

Sebelum kembali ke Indonesia, saya menghabiskan sekitar 2 hari di rumah Peter. Saya sempat mencoba bagaimana rasanya memancing di danau walaupun kami tidak mendapatkan ikan seekor pun.

 

 

Full Album

1 Comment

Submit a comment