Hongkong – Macao

Another random trip!

Jadi rencananya liburan Januari ini saya mau stay di Jakarta aja beberapa hari, untuk melanjutkan misi yang menyangkut masa depan. Tapi apa daya semuanya terlambat, jadi semuanya harus mulai dari awal lagi 🙁

#sad #curhat

It made me ‘crazy’ for couples of days.

Well, tapi hidup harus terus berlanjut. Di saat yang sama teman saya yang punya usaha travel, seperti biasanya mengirimkan saya promo-promo flight ke luar negri. Kebetulan waktu itu dia mengirimkan promo pesawat ke Hongkong dengan harga yang sangat miring. Walaupun pesawat itu adalah Malaysia Airlines, yang sebelumnya punya track record jelek, saya akhirnya memutuskan mengambil promo itu.

Tibalah saatnya saya memulai perjalanan, dari Tembagapura – Jakarta dengan penerbangan kurang lebih 7 jam menggunakan Airfast. Awalnya saya dijadwalkan untuk mendarat di Cengkareng tapi kemudian akhirnya dipindahkan ke Halim Perdana Kusuma. Karna saya sudah memesan hotel dekat Cengkareng, saya harus meneruskan perjalanan menggunakan Uber ke hotel Ibis.

Saya memilih hotel ini karena letaknya dekat dengan bandara. Penerbangan saya ke Hongkong dijadwalkan dini hari di hari berikutnya. Jadi mau tidak mau saya harus mencari penginapan yang dekat. Hotel Ibis Budget sangat cocok untuk traveler yang ingin mengejar flight atau transit hanya beberapa jam, letaknya yang dekat dan hotel juga menyediakan layanan shuttle bus gratis.

Penerbangan ke Hongkong terbilang cukup lancar, tidak ada gangguan yang berarti. Saya harus transit di Malaysia sekitar satu jam untuk ganti pesawat berikutnya. Jika saya bandingkan dengan Garuda, layanan Malaysia Airlines jauh lebih menyedihkan, makanan yang pas-pasan. Mungkin karena mereka sedang cost cutting, bangkit dari keterpurukan karena kecelakaan yang menimpa maskapai ini beberapa tahun lalu.

Tiba di Hongkong ternyata cuaca tidak terlalu bersahabat. Langit mendung dan berawan. Ketika mendarat, jarak pandang tidak jauh. Hal ini sempat membuat saya sedih, karena kedatangan saya kesini sekalian untuk hunting foto.

Ketika para penumpang baru bersiap turun dari pesawat, saya melihat beberapa orang mulai menggunakan coat dan gloves. Saya baru ingat, ini adalah bulan Januari, artinya suhu di negara sub tropis masih dingin. Saya tidak membawa pakaian/peralatan untuk suhu dingin sama sekali.

Zonk!!

Dari bandara saya menggunakan kereta Airport Ekspress, harganya cukup mahal, sekitar 100 HKD atau 200 ribu rupiah.

Perjalanan ke Hostel membutuhkan waktu sejam, saya harus berpindah line ketika menuju nathan road. Penginapan saya berada di Mirador Mansion. Saya dapat rekomendasi ini dari Trip Advisor. Setelah berjalan bebrapa meter dari stasiun MRT dalam keadaan menggigil, akhirnya saya menemukan mansion ini. Ternayata bentuknya mirip dengan ITC di Jakarta dengan ukuran lebih kecil. Beberapa lantai dibawah digunakan sebagai toko yang didominasi oleh orang India. Saya cukup kerepotan mencari lift untuk naik ke penginapan saya sampai saya akhirnya bertanya ke pedagang India.

Penginapan saya berada di lantai 15. Ternyata ruangan ruangan di gedung ini rata-rata digunakan sebagai hostel. Saya bertemu dengan banyak turis yang juga kebingungan mencari ruangan mereka. Setelah saya checkin, saya diantar oleh petugasnya menuju kamar saya yang letaknya satu lantai dibawah. Saya merasa surprised melihat kamar yang saya pesan, padahal saya memilih yang single, ukurannya sangat kecil mungkin 2×5 meter, sudah termasuk kamar mandi. Mirip dengan apa yang saya biasanya lihat di tayangan televisi. Kamar mandinya sangat sempit, hampir tidak ada jarak antara toilet dan wastafel. Walaupun kecil, tapi ruangannya bersih dan ada air panas.

 

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.