Lake Toba, Indonesia

Scroll this

Perjalanan kali ini saya memilih destinasi dalam negri, capek keluar negeri terus 😀 .

Danau Toba merupakan salah satu tempat wisata yang sangat ingin saya kunjungi. Dari kecil, nama Danau Toba sudah familiar karena pelajaran di bangku sekolah. Konon katanya merupakan salah satu danau terbesar di Dunia. Selain itu saya ingin mengunjungi kota Medan yang terkenal akan wisata kulinernya, campuran antara Melayu, Chinese, dan India.

Seperti biasa, dari site saya harus memulai hari pukul 3.30 pagi untuk persiapan perjalanan. Dari Tembagapura saya naik bis konvoi menuju Timika bersama dengan karyawan lainnya yang ingin pulang ke rumah masing-masing. Bisanya kami menggunakan helikopter, namun pagi itu cuaca tidak bersahabat. Dari Timika, bandara Mosez Kilangin, menuju Jakarta saya naik pesawat perusahaan, Airfast – si ekor kuning.

Saya transit di Jakarta selama dua malam untuk istirahat dan juga bertemu dengan teman-teman di gereja untuk sebuah project. Saya menginap di salah satu hostel dekat dengan bandara Sudirman. Sangat mudah untuk mengakses tempat ini karena bisa menggunakan kereta bandara, dengan biaya hanya 75 ribu rupiah.

Hari Pertama

Keesokan paginya saya berangkat ke bandara menggunakan kereta lagi. Pesawat ke Silangit berangkat sekitar pukul 1 siang. Perjalanan ditempuh selama kurang lebih dua jam. Syukurlah tidak ada turbulensi yang berarti, terutama ketika memasuki wilayah sumatra utara, dimana cuaca tidak bersahabat. Saat itu langit mendung dan berkabut. Bandara Silangit tidak terlalu besar, cukup untuk memuat dua pesawat di saat yang bersamaan. Tampak bandara ini masih dalam proses pembangunan, ruang pengambilan bagasi masih belum rampung.

This slideshow requires JavaScript.

Permasalahan muncul ketika saya harus mencari transportasi dari bandara ke pelabuhan Prapat. Menurut informasi twitter angkasa pura bandara silangit, ada bis Damri yang melayani perjalanan dari bandara ke pelabuhan Prapat, namun saat itu tidak ada. Akhirnya saya harus menggunakan taxi yang ada di bandara. Taxinya dikelola oleh masyarakat setempat atau mungkin koperasi yang bekerja sama dengan driver/travel. Mobil yang mereka gunakan rata-rata jenis MPV seperti Avansa. Tarif yang mereka pasang adalah 400 ribu per mobil, bisa dibagi rata dengan penumpang lain. Setelah menunggu beberapa lama berharap ada penumpang lain yang searah dengan saya, akhirnya saya memutuskan untuk pergi sendiri tanpa penumpang lain. Ternyata pesawat saya adalah yang terakhir untuk hari itu. Setelah nego sana sini, dengan alasan saya adalah mahasiswa, saya mendapatkan diskon menjadi 250 ribu. Kebetulan penampilan saya saat itu sangat gembel dengan tas ransel butut. Haha.

Perjalanan ke Pelabuhan Prapat cukup lama, sekitar satu setengah jam, melewati beberapa kota/kabupaten. Untung supirnya baik, dia mengantarkan saya sampai depan pelabuhan. Dia mengenalkan saya dengan travel yang menjual tiket ferry untuk menyeberang ke Tomok. Saya sempat kuatir harus menginap di Prapat karena hari sudah lumayan gelap dan hujan, ternyata kapal sampai jam setengah tujuh setiap hari. Saya cukup membayar 15 ribu untuk satu kali perjalanan.

Di kapal saya bertemu dengan bule-bule yang menuju Tuk-Tuk, lumayan banyak. Mereka dari beberapa negara, terdengar dari bahasa yang digunakan. Saya juga sempat ngobrol-ngobrol dengan pemuda-pemuda lokal disitu. Mereka ramah-ramah, walaupun tampangnya sangar. Hehe. Mereka menawari saya untuk ‘minum’, saya iyakan kalau ada waktu. 😀

Kapal disini ternyata mengantarkan penumpang langsung ke penginapan masing-masing, tentu saja jika penginapannya di pinggir danau dan memiliki dermaga. Saya menginap di guest house Romlan. Saya tau penginapan ini dari rekomendasi di Tripadvisor. Ternyata disini yang menginap kebanyakan bule. Bahkan pentugasnya ngobrol dengan saya menggunakan bahasa inggris, sampai akhirnya dia tau kalau saya dari Toraja.

Penginapannya lumayan bagus untuk harga yang murah. Saya mendapatkan kamar di pinggir danau dengan kamar mandi privat. Kamarnya bersih dan nyaman, toiletnya juga bersih dan luas. Kekurangannya hanya tidak ada air panas. Untuk makan malam saya memilih Mie Gomok, mie yang terkenal dari medan.

Hari Kedua

Saya sempat bingung menentukan rute di hari kedua, antara destinasi yang jauh atau yang dekat. Berdasarkan ramalan cuaca dan pertimbangan dari karywan guest house, saya memilih untuk mengunjungi desti asi yang jauh terlebih dahulu. Karna saya lupa bawa SIM C akhirnya saya meminta karyawan setempat untuk mengantarkan saya sekaligus jadi guide saya.

Rute perjalanan kami mulai dari Tuk-Tuk menuju utara pulau samosir. Sepanjang perjalanan saya sangat kagum dengan pemandangan alamnya, terutama pemandangan danau yang sangat luas, seperti lautan. Tujuan pertama kami adalah museum Huta Bolon Simanindo. DIsini seharusnya ada pertunjukan tarian Si Gale-Gale, tapi karena kami datang kepagian, belum ada turis yang datang. Saya memutuskan untuk melanjutkan perjalanan. Oh iya, dari sini kita bisa melihat lokasi tenggelamnya kapan Sinar Bangun. Dekat pulau kecil di tengah danau, mereka membangun tugu sebagai penanda bagi mereka yang mau ziarah. Sejak kejadian itu, manifest kapal diperketat, semua orang harus dicatat dan kapasitas kapal tidak boleh melebihi batas.

Tujuan berikutnya adalah daerah Pangururan. Sepanjang perjalanan saya juga sempat bertanya-tanya tentang kebudayaan orang Batak. Ternyata marga di Batak ini banyak sekali, ada ratusan marga. Ada marga yang belum pernah saya dengar sama sekali sebelumnya. Katanya tidak semua marga bisa menikah dengan marga lainnya. Tiap marga punya daerah ‘kekuasaan’ masing-masing yang dahulunya berupa kerajaan. Jadi jika ada pasangan yang berbeda marga, mereka harus mendapat persetujuan dari raja. Sebagian tata cara adat di Batak mirip-mirip dengan orang Toraja. Misalnya bentuk rumah adat, kuburan dan makanan.

Dari panguruan kita bisa melihat pemandangan danau toba yang lebih luas dari ketinggian. Saya menyempatkan diri untuk mengambil beberapa foto. Perjalanan makin menanjak ketika kami menuju air terjun. Pemandangan perkampungan di sini tidak terasa asing, seperti berada di kampung sendiri.  Hujan mulai turun ketika kami sampai di air terjun Nai Sogop. Debit air yang mengalir pun semakin deras. Saya mengurungkan niat untuk mandi disitu, selain itu airnya sangat dingin.

Hujan mulai reda, kami melanjutkan perjalanan menuju selatan, mengambil rute yang menanjak kemudian turun kembali ke panguruan. Kami menyempatkan diri untuk makan siang dengan menu babi panggang. Rasanya enak, walaupun ada rasa amis sedikit. Dari sini kami memutuskan untuk kembali ke guest house karena cuaca tidak baik. Kami mengambil rute jalan tengah pulau Samosir. Terlihat jalanannya masih baru karena kunjungan pak Jokowi. hehe.

Hari Ketiga

Sepeda! Saya menghabiskan hari ini dengan mengendarai sepeda dari Tuk-Tuk ke Tomok dan Ambarita. Trek yang menanjak dan menurun cukup menguras tenaga. Sepeda yang saya sewa ternyata kondisinya tidak prima. Saya tidak bisa mengganti gear dengan gampang, saya harus mencari triknya.

Tujuan pertama saya adalah ke museum batak dan melihat pertunjukan tarian si gale-gale di Tomok. Setelah itu saya menuju Ambarita. Saya sangat menikmati perjalanan ini karena bisa berolahraga, walaupun kulit menjadi gosong. Setelah jam makan siang, saya kembali ke penginapan dan menghabiskan waktu disini di pinggir danau. Malam harinya saya tidak kemana-mana.

Hari Keempat

Waktunya untuk meneruskan trip ini ke Medan. Saya sudah memesan kapal untuk menyeberang dan taxi dari Parapat ke Medan. Sebenarnya bisa naik bis, tapi dari pelabuhan harus naik angkot terlebih dahulu menuju terminal bis. Karena harganya cukup murah, sekitar 85 ribu rupiah, saya memilih untuk naik Taxi. Perjalanan ke Medan cukup lama, sekitar 3-4 jam. Dalam mobil Avanza ini ada 7 orang penumpang, dimana hanya saya yang wisatawan lokal. Saya bertemu dengan traveler wanita dari Jerman yang katanya tidak terlalu suka dengan tempat wisata yang terlalu ramai, ini alasan dia kenapa tidak memilih bali selama kunjungan dia ke Indonesia.

Saya menginap di sebuah hostel, di jalan Guru Patimpus. Tarif hostelnya cukup murah, walaupun kamar yang disdiakan sangat kecil dan jauh di belakang. Malam harinya saya pergi ke Mie Cong Siem, salah satu restoran mie yang terkenal di Medan. Rasanya tidak perlu diragukan lagi, pork!! haha.

Hari Kelima dan Keenam

Hari ini saya bertemu dengan teman lama saya di kampus. Beliau bersama suaminya menyempatkan diri mengantar saya keliling-keliling kota medan. Dari Istana maimun, museum perkebunan, dan Tjong A Fie mansion, Masjid Agung dan juga Kantor Pos. Kota medan mirip dengan kota Makassar yang panas. Pembangunan juga sedang gencar-gencarnya. Tak lupa kami mampir di durian Ucok yang terkenal itu. Sayangnya saat itu bukan musim durian, jadi durian yang kami makan tidak terlalu spesial, dan harganya mahal. Katanya harus kesini ketika musim durian, pilihannya banyak dan harganya jauh lebih murah. Bisa mabok durian. Sebagai penutup kami makan malam di Mie Aceh Titi Bobrok.

Sabtu malam saya ikut misa di gereja Katedral. Salah satu kebiasaan saya ketika mengunjungi satu kota adalah pergi ke Gereja. Menikmati arsitekturnya dan kalau sempat ikut misa. Rasanya adem 🙂

Hari Ketujuh

Waktunya untuk pulang kampung. Saya mengambil penerbangan siang dan tiba di Jakarta sore hari. Saya menginap di Digital Hotel atau Capsul Hotel di Terminal 3 bandara Soekarno Hatta. Besok subuh saya melanjutkan perjalanan ke Makassar kemudian ke Toraja.

Hit List.

  • Ternyata Danau Toba itu luasss banget. 😀
  • Biaya hidup disana sangat murah. Makanan murah, buah-buahan, transportasi dll.
  • Kuliner di Medan top banget deh..
  • Cobain Capsule Hotel di Terminal 3. Buat yang sering bepergian dan harus transit, ini adalah solusi terbaik. Hotelnya bersih dan nyaman. Fasilitas lengkap.

Submit a comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.