Komodo Island, Indonesia

Scroll this

beware, mind your eyes

Perjalanan akhir tahun ini ditutup dengan sempurna dengan trip ke Pulau Komodo. Saya memesan tiketnya dua hari sebelum cuti. Random! Considered it as birthday present.

Rute cuti kali ini cukup jauh. Tembagapura – Timika – Makassar – Jogja – Jakarta (overnight) – Bali – Labuan Bajo – 3D2N trip – Bali – Makassar – Toraja. Kalau dihitung kira-kira 8000an km :D. Terima kasih untuk Sriwijaya Travel Pass, perjalanan menjadi lebih mudah.

Ketika pesawat sudah mau mendarat di Bandara Komodo Labuan Bajo, pemandangan yang disuguhkan sudah mulai menampakkan keindahannya. Gugusan pulau-pulau kecil terbentang di antara birunya laut flores. Bandara yang terbilang baru ini cukup nyaman, ukurannya tidak besar, layaknya bandara perintis lainnya. Untuk menuju hotel saya harus menggunakan Taxi yang dikelola masyarakat sekitar. Jaraknya tidak terlalu jauh, di peta hanya sekitar 10 menit. Biaya yang harus saya bayar adalah 50 ribu rupiah.

Saya menginap di Eco Tree Hotel. Dari luar tampak biasa saja, tapi setelah masuk ke kamarnya, hotel ini saya acungin jempol. Interiornya layak seperti bintang 4. Signal wifi yang kuat dan tempat tidur yang nyaman. Kekurangannya hanya air di kamar mandi terlalu kecil. Oh iya, sebelum check in saya harus menunggu dua jam karena datang terlalu cepat. Saya memutuskan untuk makan siang dengan menu Sei Babi. Ternyata lokasi restorannya dekat bandara yang saya liat tadi. Harganya murahhh, dibandingkan dengan di Jakarta. Recomended deh, nama restorannya Se’i Babi Bola Bale. Dari hotel kesini bisa pakai jasa ojek.Malam harinya jalan-jalan ke dermaga sambil mengamati kegiatan penduduk sekitar. Saya juga lewat pasar ikan. Di dermaga sudah banyak pengunjung yang menunggu matahari tenggelam. Yang menarik dari tempat ini adalah air di pelabuhan masih sangat jernih, belum tercemari oleh polusi. Namun sekitar dermaga sudah mulai dibangun gedung-gedung megah. Semoga tidak merusak lingkungan sekitar.

Untuk makan malam saya mencoba Ikan Kerapu Bakar. Saya sudah ngidam sejak dari site, pengen makan ikan bakar. Haha. Anehnya ketika saya mimilih ikan, saya dikasih harga 60 ribu. Tapi ketika selesai makan, saya ditagih cuma 40 ribu. Haha. Rejeki anak soleh.

Hari berikutnya adalah hari yang ditunggu-tunggu. Saya akan memulai perjalanan tiga hari dua malam dengan orang asing. Ada perasaan nervous juga, nanti bakalan cocok apa tidak. Haha. We’ll see. Grup WA yang dibuat oleh pihak travel mulai rame. Ada satu orang yang tidak jadi berangkat karena flightnya diundur, padahal dia jauh-jauh dari Kenya. Ternyata ada yang satu hotel dengan saya, jadi berangkatnya bisa bareng.

Sesampai di dermaga, kami langsung disambut oleh kru travel Indonesia Juara. Mereka sangat ramah dan helpful, semua barang-barang kami dengan sigap mereka angkut ke kapal. Disini saya bertemu dengan teman-teman seperjuangan untuk tiga hari ke depan. Dony, Heri, Harie, Makoto, Imma, Agnes, Tania, Rani, dan Deska. Dan juga guide kami yang kocak bang Andro.

Sepanjang perjalanan ini, ternyata teman-temannya asik. Awalnya sih masih kagok, tapi setelah itu aslinya keluar. Kalau jiwa petualang dan jalan-jalan sudah bertemu, pasti hasilnya seru. Hehe. Perjalanan menjadi tidak membosankan karena selalu diselingi canda tawa. Coba kalau orangnya kayak gw semua, pasti garing. 😀

Kapal yang kami gunakan terbilang tidak terlalu besar, karena kami hanya 10 orang tamu. Biasanya mereka menampung sampai 14 orang jadi kapalnya akan lebih besar. Kami cukup beruntung datang di saat yang tepat karena bukan peak season. Jika peak season akan sangat ramai, kapal akan berdesak-desakan. Peak season sekitar bulan May – Agustus. Dan juga kami diberikan cuaca yang bagus, tidak terlalu panas dan tidak hujan. Thank God.

Pulau Kelor

Ini adalah tujuan pertama kami. Waktu yang ditempuh dari pelabuhan ke pulau ini sekitar 1 jam. Setelah kapal mulai berlabuh, kami langsung terkesima dengan pemandangan di depan mata kami. Berbeda dengan tempat lain yang hanya lautan luas, disini banyak pulau -pulau kecil yang membuat kesan seakan berada di dunia Jurrasic Park. Hehe. Pemandangannya tidak monoton.

Di Pulau Kelor sudah ada beberapa kapal yang sandar dan juga pengunjung yang asik mengambil foto. Karena pantainya dangkal, kami harus menggunakan sekoci untuk sampai di daratan. Pemandangan utama di tempat ini adalah spot dari atas puncak bukit. Disini kami harus mendaki di tengah panas matahari yang terik. Perjuangan mencapai puncak dibayar dengan pemandangan yang indah. Laut yang berwarna biru kehijauan dan kapal-kapan yang sandar menambah kemegahannya.

Oh iya, salah satu daya tarik dari travel Indonesia Juara Trip adalah dokumentasi yang lengkap. Di darat, udara, dan air adaa. Hahah. Disini kami mengambil gambar menggunakan drone yang dioperasikan oleh guide serba bisa kami, bang Andro.

Manjarite Beach

Manjarite beach atau lebih cocok disebut dermaga berlokasi di sebuah pulau yang dimiliki oleh seseorang alias private island. Disini terdapat dermaga yang menjorok ke laut, pemandangannya kece buat mengambil foto. Kami juga menyempatkan diri untuk snorkling di sekitar dermaga. Pemandangan bawah airnya tidak terlalu bagus, hitung-hitung untuk adaptasi dengan alat snorkling karena masih banyak spot untuk snorkling keesokan harinya.

This slideshow requires JavaScript.

Pulau Kalong

Destinasi terakhir hari ini adalah ke Pulau Kalong. Pulau Kalong merupakan daratan yang dipenuhi oleh pohon mangrove. Mangrove ini menjadi rumah bagi kalong-kalong. Siang hari mereka beristirahat di dahan-dahan pohon. Pada sore menjelang malam, mereka mulai terbang keluar dari sarang mereka menuju daratan yang lebih luas untuk mencari makan. Jumlah mereka ada ribuan. Butuh lebih dari sepuluh menit sampai kalong terakhir meninggalkan pulau. Ukurannya pun tidak kecil seperti yang ada di hutan-hutan, ukurannya sangat besar, sehingga dari kapal kita masih bisa melihat dari kejauhan bentuk unik dari hewan ini. Pemandangan yang tidak dapat kita saksikan di tempat lain. Apalagi ketika cahaya matahari senja mulai redup, warna merah dan kuning mulai menutupi horizon.

Karena kami menginap di atas kapal, kami harus mencari tempat untuk menyandarkan kapal kami. Setelah beberapa saat, kapten kapal memutuskan untuk langsung menuju Pulau Padar, tujuan utama kami, dan bermalam disitu. Perjalanan akan dimulai setelah kami makan malam.

Kapten kapal dan beberapa kru kapal lainnya adalah orang bugis makassar, saya dan Imma masih bisa mendengar logat kental mereka. Oh iya, kru kapal disini pandai dalam memasak. Kami sangat puas dengan hidangan makan pagi, siang, malam dan juga camilan seperti pisang goreng dan jus. Semuanya terjamin di kapal ini.

 

Perjalanan ke Pulau Padar lumayan lama. Kami harus mematikan lampu agar kapten bisa melihat jalur dengan baik. Kapal-kapal lain juga memutuskan untuk menginap disana. Beruntung, angin tidak kencang di pulau ini sehingga kami bisa tidur dengan lelap tanpa terusik oleh goncangan ombak. Kamar-kamar di kapal ini dilengkapi dengan fasilitas listrik dan AC. Jadi tidak perlu kuatir akan kepanasan ketika tidur di malam hari.

Pulau Padar

Pukul 4 dini hari kami sudah dibangunkan oleh bang Andro. Nampaknya tidak ada yang komplain karena dibangunkan pagi-pagi, semua bersemangat untuk mendaki ke puncak. Hehe. Hari masih gelap ketika kami menyebrang ke pantai menggunakan sekoci.

Pengunjung yang lain juga sudah mulai bangun dan bergegas menuju pantai. Untuk naik ke puncak dibutuhkan fisik yang lumayan, walaupun menurut saya trek ini masih termasuk easy. Salut dengan salah satu teman yang sedang hamil tapi tetap semangat untuk naik ke puncak.

Pemandangan dari atas puncak pulau ini sangat menakjubkan. Pemandangan alam yang tiada duanya. Bentuk Pulau Padar ini sangat eksotik, bentuknya tidak seperti pulau pada umumnya yang bulat, namun memiliki lengan lengan dengan berpusat di tengah. Kalau bisa saya bilang pulau ini adalah pulau terindah yang pernah saya kunjungi. Pulau purba yang cantik. Pemandangan kapal-kapal yang berlabuh di pantai menambah keindahan tempat ini. Selain itu kami juga melihat ada dua rusa yang sedang mencari makan. Ini bonus menurut saya. Hehe.

Tercapai sudah cita-cita untuk sampai di tempat ini.

Kami mengambil dokumentasi sebanyak mungkin di tempat ini. Entah kapan bisa datang di tempat ini lagi. Oh iya, penggunaan drone di lokasi ini sudah dilarang sejak beberapa bulan yang lalu. Pihak taman nasional melarang dengan denda yang cukup berat jika kedapatan. Ijin travel juga bisa dicabut. Beruntung buat mereka yang sudah mengambil aerial view menggunakan drone sebelumnya.

Dan ini adalah foto ala-ala yang berhasil kami buat. 😀

Pulau Komodo

Hewan penghuni pulau ini menjadi salah satu tujuan utama turis datang kesini. Pulau ini cukup besar dengan kontur perbukitan. Ada dermaga panjang yang dibangun untuk memudahkan kapal bersandar. Untuk berkeliling di Pulau ini kita harus ditemani oleh dua orang ranger, pawang Komodo. Mereka sudah dibekali keahlian untuk mengatasi serangan Komodo.

Ada beberapa trek yang bisa dilalui di pulau ini, setiap trek punya keunikan masing-masing. Katanya selain Komodo kita bisa melihat ular dan burung endemik di pulau ini. Kami memilih untuk mengambil trek yang pendek, karena hari sudah panas dan kami hanya ingin bertemu dengan Komodo. Hehe.

Untuk bertemu dengan Komodo kami harus menuju tempat mereka sering datang untuk minum. Kata ranger, Komodo tidak memiliki daerah teritori, jadi mereka bisa kemana saja kemana pun mereka mau. Di sumur air, kami bertemu dengan tiga ekor Komodo. Tampaknya mereka masih kenyang jadi aman untuk didekati. 😀

Setelah mendengarkan penjelasan-penjelasan dari ranger, kami kemudian foto satu-satu dengan Komodo. Tentu saja tidak berdampingan langsung, tapi menggunakan trik kamera sehingga nampak kami sedang mengelu kepala Komodo. Hahaha. nice!

Sebelum meninggalkan Pulau ini, kami menyempatkan diri untuk membeli kelapa muda untuk melepaskan dahaga. Segarr…

Pink Beach

Akhirnya, setelah dari tadi pagi mengeluh kegerahan, pengen untuk nyebur segera, tiba waktunya untuk main air lagi. Terik matahari tidak menyurutkan niat kami untuk menikmati pantai yang sangat populer ini. Warna pantai ini terdapat gradasi merah muda karena adanya serpihan-serpihan koral merah yang sudah hancur. Perpaduan warna biru, hijau toska, pink, dan putih membuat pantai ini menjadi sempurna.

Sebelum nyebur ke laut, kami mengambil beberapa gambar menggunakan drone. Seperti foto-foto yang sudah banyak bertebaran di instagram. hehe.

Snorkling di tempat ini lebih menarik karena air yang jernih, koral yang warna warni dan juga ikan-ikan kecil yang banyak. Saya bisa menghabiskan waktu berlama-lama di tempat ini. Tapi rasa asin air laut tetap membuat saya terganggu. haha.. Dasar amatiran!!

Puas berenang di pantai ini, kami kembali ke kapal untuk menikmati hidangan makan siang kami.

Manta Point

Ada Komodo, Kalong, ada juga Manta yang menjadi daya tarik tempat ini. Hewan ini masuk dalam genus Manta. Manta di tempat ini tidak berbahaya, berbeda dengan Manta Ray yang bisa membunuh manusia.

Kami sangat bersemangat ketika mendekati lokasi ‘perburuan’ Manta ini. Kami langsung bersiap dengan alat snorkling masing-masing. Karena letaknya di laut yang agak dalam, kami harus mencari lokasi yang tepat. Pengunjung yang lain sudah sampai di lokasi.

Mereka memberitahu kami bahwa disekitar situ ada manta. Kami pun mulai mencari. Tiba-tiba bang Andro berteriak “Ada Manta!” sesaat itu juga kami melompat di perahu untuk melihat kebawah sampai kapal oleng. Haha.. Tapi Manta yang tadi sudah kabur, jadi kami menuju ke kerumunan pengunjung lain. Ada yang teriak lagi. Saya langsung nyebur ke laut, dan ketika saya melihat kebawah, ada hewan raksasa seukuran karpet sedang melayang-layang. Saya sempat kaget karna shock. Haha.. Tapi kemudian saya berenang lagi mengikuti Manta-mata itu. Saya sangat menikmati pengalaman ini, berada dekat dengan hewan-hewan yang super besar. Kami sempat bertemu dengan tiga Manta sekaligus. Anehnya mereka tidak menghindar dari keberadaan kami. Bang Andro pun takjub dengan hal ini, biasanya mereka bertemu Manta seekor atau sulit untuk mendekati Manta ini. Tapi hari ini berbeda, mungkin mereka special menyambut kedatangan kami. 😀

Taka Makassar

Dari Manta poin, kami menuju ke Taka Makassar. Tempat ini merupakan daratan yang terbuat dari gundukan pasir atau mungkin sisa-sisa karang yang sudah hancur. Bentuknya seperti pulau pasir putih. Kami tidak berlama-lama di tempat ini, cukup dengan beberapa dokumentasi, kami melanjutkan perjalanan.

Tujuan berikutnya seharusnya Pulau Sebayur, namun karena ombak yang besar dan angin yang cukup kencang, kami memutuskan untuk lanjut ke Pulau Kanawa dan bermalam disana.

Pulau Kanawa

Perjalanan ke Pulau ini cukup mengerikan buat kami, tapi mungkin tidak untuk kru kapal. Kalau di pesawat, ini adalah turbulensi yang besar. Hehe. Kapal bergoyang kiri kanan, naik turun mengikuti ombak. Saya mengurungkan niat untuk mandi karena takut kejedot dinding kamar mandi yang sempit.

Pulau ini adalah pemberhentian terakhir kami. Kami akan bermalam disini. Ombak cukup besar sehingga menggoyangkan kapal-kapal yang bersandar di pulau ini. Goncangannya membuat kami mabok laut. Kami memutuskan untuk pergi ke pulau memakai sekoci. Lumayan untuk menghindari mabok laut yang makin parah.

Di Pulau ini terdapat resor kecil yang nampaknya sepi dari pengunjung. Kami menghabiskan sore disini sambil berbagi cerita dan mendengarkan pengalaman bang Andro. Bang Andro orangnya supel dan kocak, kami sangat terhibur dengan keberadaan dia. Orangnya juga sangat jujur dan lugu. Hehe.

Makan malam di kapal tidak terlalu menyenangkan karena kapal yang goyang oleh ombak. Setelah makan saya minum antimo agar bisa langsung tidur. Untungnya berhasil! Keesokan paginya saya bisa bangun dengan segar.

Hari terakhir kami habiskan untuk snorkling di dermaga Pulau. Kami tidak perlu untuk masuk ke tengah laut. Sisa-sisa biskuit dan roti yang belum dimakan kami gunakan sebagai makanan ikan. Ternyata ikan-ikan disitu doyan. Mereka berebutan makanan seperti ketika memberi makan ikan mas di kolam. Haha. Sempat juga terlihat seekor lion fish, ikan yang cantik tapi beracun.

Setelah puas bermain dengan ikan, kami menuju ke kapal untuk bersih-bersih, packing dan makan siang untuk melanjutkan perjalanan ke bandara dan menuju rumah masing-masing.

Ternyata ketika sampai di darat, sensasi tipsy nya tidak hilang bahkan ketika sampai bandara. Kami berpisah di bandara dengan pesawat masing-masing. Pesawat saya dan dion/tania yang paling terakhir, terus harus pake acara delay selama satu jam.

Di bandara Ngurah Rai, pak Yakub dan mas Fahmi sudah standby di pintu kedatangan menyambut saya. Ternyata di villa udah ada mobil baru, kece! Haha. Saya menghabiskan tiga hari di Villa untuk melepaskan lelah sambil leyeh-leyeh di kolam renang. 😛 .

 

Thank you guys for this trip, see you around…

And this is the video from my friend. Really good one.

 

* dan kegaduhan masih berlanjut di grup WA sampai tulisan ini diterbitkan.

 

Submit a comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.